Menampilkan 4 Hasil
Berita

Diklat SISKEUDES

Guci Tegal, Diklat SISKEUDES diikuti oleh 15 desa se Kecamatan Watukumpul. Desa Bodas yang diikuti oleh Noviarno Setyo Handoko (Sekretaris Desa), Indri Purnita Sari (Kaur Keuangan), dan Aris Wibowo (Kaur Perencanaan) selaku Admin Desa. Diklat ini dibiayai dari APBDesa tahun 2018 dalam rangka meningkatkan kapasitas perangkat desa dan mendukung program Sistem Informasi Desa (SID). Adapun desa peserta diklat SISKEUDES yang diselenggarakan di Hot Waterboom Guciku Tegal sebagai berikut:

  1. Bodas
  2. Bongas
  3. Cikadu
  4. Majalangu
  5. Pagelaran
  6. Tambi
  7. Tlagasana
  8. Watukumpul
  9. Wisnu
  10. Tundagan
  11. Medayu
  12. Gapura
  13. Majakerta
  14. Cawet
  15. Jojogan

Diklat yang dilaksanakan 3 hari mulai hari Sabtu (12/05) s/d Senin (14/05) ini dibuka oleh H. Sipan selaku Sekcam Watukumpul dan dilanjutkan oleh Bapak Tardi perwakilan dari Paguyuban Kepala Desa (Simongklang) Wilayah Watukumpul. Diklat tersebut juga dihadiri oleh Tim dari DINPERMASDES Kabupaten Pemalang sebagai tutor diklat SISKEUDES.

“Diklat SISKEUDES ini sebagai tindak lanjut dari program Bupati Pemalang H. Junaedi, SH,MM. tentang SID dan program nasional tentang sistem keuangan desa agar seluruh desa menggunakan aplikasi SISKEUDES secara menyeluruh.” tutur Darsono, Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Watukumpul.

Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB di ruang aula Hot Waterboom Guciku Tegal. Peserta diklat sangat antusias mengikuti diklat tersebut dengan membuat yel-yel: “SISKEUDES, Yes! SISKEUDES, Yes! SISKEUDES, Yes Yes Yes!.

“Adanya aplikasi SISKEUDES bertujuan untuk memudahkan Bendahara Desa dalam mengelola keuangan desa secara cepat, akuntabel dan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.”

Potensi Desa

Kedung Bunder

KEDUNG BUNDER, merupakan surga kecil yang tersembunyi di Desa Bodas Kec. Watukumpul Kab. Pemalang. Untuk mencapai lokasi Kedung Bunder ini memang dibutuhkan kerja yang ekstra. Dari arah kota Pemalang, kamu perlu berjalan ke selatan. Sampai di desa Semingkir, kecamatan Randudongkal, ambillah jalan ke kiri ke arah kecamatan Watukumpul, kemudian dari pasar Majalangu berjalan kearah utara menuju Desa Bodas. Lokasinya tak jauh dari Kedung Bening.</span></p>
<p style=”text-align: justify; font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; orphans: 2; widows: 2; -webkit-text-stroke-width: 0px; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; word-spacing: 0px;”><span style=”font-size: 13.5pt; color: black;”>Di tempat ini tidak disediakan lahan untuk parkir. Untuk memasuki lokasi pun tidak perlu membayar karena belum ada yang mengelola area ini. Setelah memarkirkan kendaraanmu di lahan kosong, kemudian kamu akan diajak menjelajah dengan tracking jalan melewati ladang dan kebun warga, lalu turun dengan kemiringan 35 derajat dan menyusuri bibir sungai. 30 menit kemudian, kamu akan sampai di surga kecil yang bernama Kedung Bunder ini. Tapi perlu diwaspadai karena kedalaman kedung ini mencapai 4,5 meter. Jadi kamu harus berhati-hati.</span></p>

Potensi Desa

Kedung Bening

KEDUNG BENING, atau telaga kecil ini terbentuk karena adanya proses erosi bebatuan oleh sungai dan air hujan yang kemudian membentuk sebuah cekungan. Di waktu kemarau tiba, cekungan ini membentuk telaga yang berubah warna menjadi hijau bening karena pengaruh reaksi mineral di dalamnya. Namun, kalau musim penghujan tiba, seperti sekarang ini volume air cenderung naik dan warna telaga berubah menjadi keruh/ kecoklatan.</span></p>
<p style=”text-align: justify; font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; orphans: 2; widows: 2; -webkit-text-stroke-width: 0px; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; word-spacing: 0px;”><span style=”font-size: 13.5pt; color: black;”>Lokasi kedung ini cukup tersembunyi, terletak di perbatasan desa Bodas dan desa Gapura, kecamatan Watukumpul, atau sekitar 41 km dari kota Pemalang ke arah selatan. Tempat ini masih belum populer di kalangan masyarakat Pemalang, sehingga masih sepi oleh pengunjung. Istimewanya adalah, kamu tak perlu membayar lebih untuk masuk ke lokasi, karena memang tampatnya belum dikelola oleh pihak manapun.</span></p>